Bank Syariah di Indonesia | Makna Logo iB

Assalamu a’laikum

bung ada yang ingin saya tanyakan nih, hehe
kapan sih mulai ada bank syariah di Indonesia (yang lengkap yah plus sejarahnya juga)
logo bank syariah itu IB yah itu artinya apa?

gitu aja dulu bung
terima kasih

Widi Firmansyah

Jawab:

Sejarah Bank Syariah di dunia dan di Indonesia, saya copas dari buku2 saya. Maaf jika mau lengkap, saya bahas panjang lebar. Tapi saya gak akan promosi buku kok, jadi saya gak sebut, apa saja buku2 saya emofugue/smiley.png

Usaha modern pertama untuk mendirikan bank tanpa bunga pertama kali dilakukan di Malaysia pada pertengahan 1940-an, namun usaha ini tidak sukses. Eksperimen lain dilakukan di Pakistan pada akhir 1950-an, dengan didirikannya suatu lembaga perkreditan tanpa bunga didirikan di pedesaan negara itu.

Namun demikian, eksperimen pendirian bank syariah yang paling sukses dan inovatif pada masamodern ini dilakukan di Mesir pada tahun 1963, dengan berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank.

Bank ini mendapat sambutan yang cukup hangat di Mesir, terutama dari kalangan petani dan masyarakat pedesaan. Jumlah deposan bank ini meningkat luar biasa dari 17,560 pada tahun pertama (1963/1964) menjadi 251,152 pada 1966/1967. Jumlah tabungan pun meningkat drastis dari LE 40,944 pada akhir tahun pertama (1963/1964) menjadi LE 1,828,375 pada akhir periode 1966/1967.

Namun sayang, karena terjadi kekacauan politik di Mesir, Mit Ghamr mulai mengalami kemunduran, sehingga operasionalnya diambil alih oleh National Bank of Egypt dan bank sentral Mesir pada tahun 1967. Pengambilalihan ini menyebabkan prinsip nirbunga pada Mit Ghamr mulai ditinggalkan, sehingga bank ini kembali beroperasi berdasarkan bunga.

Pada 1971, akhirnya konsep nirbunga kembali dibangkitkan pada masa rezim Sadat melalui pendirian Nasser Social Bank. Tujuan bank ini adalah untuk menjalankan kembali bisnis yang berdasarkan konsep yang telah dipraktikkan oleh Mit Ghamr.

Kesuksesan Mit Ghamr ini member inspirasi bagi umat muslim di seluruh dunia, sehingga timbullah kesadaran bahwa prinsip-prinsip Islam ternyata masih dapat diaplikasikan dalam bisnis modern. Ketika OKI akhirnya terbentuk, serangkaian konferensi internasional mulai dilangsungkan, dengan salah satu agenda ekonomi mendirikan bank Islam.

Akhirnya terbentuklah Islamic Development Bank (IDB) pada bulan Oktober 1975 yang beranggotakan 22 negara Islam pendiri. Bank ini menyediakan bantuan finansial untuk pembangunan negara-negara anggotanya, membantu mereka untuk mendirikan bank Islam di negara mereka masing-masing, dan memainkan peranan penting dalam penelitian ilmu ekonomi, perbankan dan keuangan Islam.

Kini, bank yang berpusat di Jeddah-Arab Saudi itu telah memiliki lebih dari 43 negara anggota. Pada perkembangan selanjutnya pada era 1970-an, usaha-usaha untuk mendirikan bank Islam mulai menyebar ke banyak negara.

Beberapa negara seperti Pakistan, Iran dan Sudan, bahkan mengubah seluruh sistem keuangan di negara itu menjadi sistem nirbunga, sehingga semua lembaga keuangan di Negara tersebut beroperasi tanpa menggunakan bunga.

Di negara Islam lainnya seperti Malaysia dan Indonesia, bank nirbunga beroperasi berdampingan dengan bank-bank konvensional. Kini, perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menyebar ke banyak negara, bahkan ke negara-negara Barat. The Islamic Bank International of Denmark tercatat sebagai bank syariah pertama yang beroperasi di Eropa, yakni pada 1983 di Denmark.Kini, bank-bank besar dari negara-negara Barat seperti Citibank, ANZ Bank, Chase Manhattan Bank, dan Jardine Fleming telah pula membuka Islamic window agar dapat memberikan jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan syariat Islam.

—————————–

Sejarah Bank Syariah di Indonesia, juga saya copas dari tulisan2 saya:


Perbankan Syariah di Indonesia yang saat ini memasuki umur dua dekade, mengalami trend pertumbuhan yang signifikan positif. Mari kita cermati dinamika tumbuh kembang perbankan syariah dari awal berdiri sampai dengan sekarang.

Bank Syariah yang pertama kali berdiri di Indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada 1 November 1991 yang kemudian beroperasi pada 1 Mei 1992. Hampir satu dekade sejak berdiri, BMI merupakan satu-satunya bank syariah yang beroperasi di Indonesia.

Pada 1998, krisis ekonomi di Indonesia pun turut menghantam BMI. Non Performing Financing (NPF) atau istilah yang digunakan untuk mengukur tingkat kredit/pembiayaan bermasalah pada BMI saat itu mencapai lebih dari 60% (bandingkan dengan batas maksimal NPF dari BI adalah 5%).

Pada saat itu, BMI pun rugi Rp.105 miliar, dengan ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar (kurang dari sepertiga modal setor awal). Pada 1999, IDB (Islamic Development Bank) secara resmi menjadi salah satu pemegang saham BMI sehingga perlahan namun pasti BMI mulai memperoleh laba kembali.

Lahirnya Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, telah memungkinkan bank syariah beroperasi sepenuhnya sebagai Bank Umum Syariah (BUS) atau dengan membuka Unit Usaha Syariah (UUS). Maka, lahirlah Bank Syariah Mandiri sebagai konversi dari Bank Susila Bakti serta UUS Bank IFI.

Pada akhir 1999 tersebut, total aset bank syariah di Indonesia baru mencapai Rp 1,12 triliun atau sekitar 0,11% dari pangsa pasar. Pada kurun waktu 3 tahun berikutnya, lahir beberapa bank syariah lain, sehingga pada Desember 2002 terdapat 2 BUS dan 6 UUS, dengan total aset mencapai Rp.4,05 triliun.

Pada 2000, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mulai mengeluarkan fatwa yang mengatur konsep dan operasional produk perbankan syariah dan berbagai lembaga keuangan syariah lain. Di samping itu, Bank Indonesia juga mengeluarkan berbagai Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) yang memberikan panduan secara rinci mengenai konsep dan praktek perbankan syariah.

Pada 16 Desember 2003, MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank sehingga menyebabkan terjadinya unorganic growth, yakni berbagai bank konvensional membuka layanan syariah. Hingga Desember 2004, total bank syariah telah mencapai 3 BUS dan 15 UUS dengan total aset Rp 15,33 triliun.

Dalam rangka akselerasi pencapaian market share bank syariah terhadap bank konvensional (yang ditargetkan 5% oleh BI pada akhir 200emofugue/nerd.png, BI mengeluarkan kebijakan bagi industri perbankan syariah, yaitu PBI No 8/3/PBI/2006. Materi paling penting pada peraturan tersebut adalah penerapan office channeling bagi bank-bank syariah.

Kebijakan ini memungkinkan bank umum konvensional untuk membuka layanan syariah di kantor konvensional. Sistem IT, pencatatan dan prosedur operasional diatur sedemikian rupa sehingga dana syariah tidak tercampur dengan konvensional. Sampai dengan Februari 2011, terdapat 1.267 kantor layanan office channeling.

Dukungan signifikan juga muncul dengan adanya peraturan mengenai Spin Off (pemisahan bank syariah dari bank konvensional induknya). Ketentuan ini tertuang dalam UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.

Pelaksanaan Spin Off ini sendiri dimotori oleh BRI Syariah yang kemudian diikuti oleh berbagai bank syariah lain sehingga total saat ini sudah ada 11 BUS, baik hasil Spin Off maupun pembentukan BUS baru. Dan saat ini sudah ada beberapa UUS yang melakukan kajian Spin Off.

Pada 2008, pemerintah juga mengeluarkan UU No 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dilengkapi juga dengan Fatwa DSN MUI dan ketentuan yang dikeluarkan oleh Bapepam-LK mengenai SBSN (Sukuk) tersebut. Ketentuan ini menyebabkan perbankan syariah bisa menjadi Sub Agen Sukuk, sehingga produk dan instrumen bank syariah menjadi semakin beragam.

Pemerintah pun memberikan dukungan yang luar biasa signifikan dengan menghapuskan ketentuan pajak ganda pada bank syariah yang ditetapkan pada Desember 2010 lalu. Pajak ganda terjadi karena adanya 2 kali transaksi jual beli pada 1 produk bank syariah.

Kebijakan ini merupakan implementasi dari Undang-Undang No 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPN dan PPnBM). Kebijakan ini untuk memberikan kesetaraan atau playing of field level antara perbankan syariah dan bank konvensional. Bahkan pemerintah sepakat akan menanggung sekitar Rp 300 miliar kewajiban bank syariah atas pajak ganda yang dikenakan sebelum penghapusan pajak tersebut berlaku sejak 1 April 2010.

Berbagai strategi dan dukungan dalam berbagai bentuk terus signifikan mengalir dari berbagai pihak, sehingga saat ini (data Februari 2011), telah ada 11 BUS dan 25 UUS dengan total aset sebesar Rp.98,8 triliun dan berhasil menyerap lebih dari 21 ribu pekerja.

Dari sisi kinerja, beberapa bank syariah berhasil mencatat laba signifikan, bahkan salah satu bank syariah berhasil meraup laba lebih dari Rp.400 miliar pada periode 2010. Dengan perolehan laba yang signifikan, diharapkan bank syariah bisa mulai menyeimbangkan tujuan profit maupun fungsi sosialnya yang merupakan value added.

Fungsi sosial ini bisa diimplementasikan melalui program Corporate Social Responsibility, ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) serta peningkatan produk pinjaman berbasis Qardh. Perhatikan data Februari 2011, alokasi Qardh hanya 8,98% dari total pembiayaan bank syariah.

Sementara itu, beberapa bank syariah juga sudah menerapkan teknologi mobile banking, internet banking dan berbagai fitur canggih yang lain. Sebagian bank syariah juga sudah mampu melakukan belanja IT untuk budget jutaan USD.

Meskipun kalah jauh dibanding bank konvensional, biaya promosi bank syariah yang mencapai Rp.1,1 triliun per tahun 2010 juga merupakan pertumbuhan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang tak lebih dari Rp.200 miliar per tahun. Selama ini, promosi dan sosialisasi masih menjadi kendala bagi bank syariah.

Biaya pendidikan SDM per tahun 2010 juga mengalami peningkatan 86% dibanding tahun 2009 dengan total biaya sebesar Rp.374 miliar. Selain untuk pendidikan internal, bank syariah diharapkan bisa memberikan perhatian kepada publik dengan melakukan kerjasama penyiapan SDM Syariah dengan berbagai institusi pendidikan.

Pencapaian-pencapaian ini memang masih kalah jauh jika dibandingkan dengan pencapaian yang diukir oleh bank konvensional. Namun, perhatian penuh terhadap proses kesiapan SDM, IT, promosi/sosialisasi, kepatuhan  terhadap syariah serta Good Corporate Governance bisa menjadikan bank syariah terus menjadi pilihan nasabah.

——————————-

tentang Logo iB:


iB adalah singkatan dari Islamci Banking. iB dengan huruf i kecil mensiratkan bahwa islam harus tampil secara humble (rendah hati). Islam dalam logo tersebut ditampilkan secara lembut, halus, rendah hati, menyejukkan, lebih menghargai.

Logo iB secara resmi mulai digunakan pada 2 Juli 2007. Logo iB yang dirumuskan secara bersama-sama oleh Bank Indonesia dengan para pelaku industri perbankan syariah mempunyai makna bahwa iB merupakan sebuah kristalisasi dari nilai-nilai utama sistem perbankan syariah yang modern, transparan, berkeadilan, seimbang dan beretika.

Pemilihan bentuk ornamen geometris yang menjadi elemen utama logo iB mencerminkan pencarian terhadap kesempurnaan yang memantulkan keseimbangan, keteraturan,presisi matematis dan perubahan yang terus menerus menuju keparipurnaan.

Sedangkan warna yang digunakan pada logo iB juga memiliki makna yang mendalam , diantaranya:

  • Warna biru melambangkan profesionalitas dan integritas.

  • Warna jingga melambangkan warna yang ramah , mencerminkan pribadi yang ramah dan rendah hati.

  • Warna hijau melambangkan pertumbuhan

  • Warna putih mencerminkan sistem yang transparan dan bersih menganut prinsip syariah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s