#Kultwit: Pemikir Ekonomi Islam – Al Ghazali (451-505 H/1055/1111 M)

# Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Tusi al-Ghazali lahir di Tus, sebuah kota kecil di Khurasan, Iran.

# Sejak kecil, al-Ghazali tumbuh dan berkembang dalam asuhan seorang sufi, setelah ayahnya yang juga seorang sufi meninggal dunia.

# Pemikiran ekonomi al-Ghazali dituangkan dalam: Ihya ‘Ulum al-Din, al-Mustashfa, Mizan al-‘Amal, dan al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk.

# Fokus utama perhatian al-Ghazali tertuju pada perilaku individual yang dibahas secara rinci dengan rujukan yang komprehensif.

# Rujukan al-Ghazali: Quran, Sunnah, Ijma Sahabat/Tabiin serta sufi: Junaid al-Baghdadi, Dzun Nun al-Mishr dan Harits bin Asad al-Muhasibi.

# Menurut al-Ghazali: seseorang harus memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dalam kerangka melaksanakan kewajiban beribadah kepada Allah.

# Menurut al-Ghazali: seluruh aktivitas kehidupan termasuk ekonomi, harus sesuai syariah Islam. Tidak boleh kikir, tidak boleh boros.

# Pemikiran sosioekonomi al-Ghazali berakar dari sebuah konsep yang dia sebut sebagai “fungsi kesejahteraan sosial islami”.

# Tema yang jadi pangkal tolak seluruh karya al-Ghazali adalah konsep maslahat atau kesejahteraan sosial atau utilitas (kebaikan bersama).

# Konsep maslahat al-Ghazali: konsep yang mencakup semua aktivitas manusia dan membuat kaitan yang erat antara individu dengan masyarakat.

# Menurut al-Ghazali, kesejahteraan (maslahah) dari suatu masyarakat tergantung kepada pencarian dan pemeliharaan lima tujuan dasar.

# Tujuan dasar maslahat: agama (al-dien), hidup/jiwa (nafs), keluarga/keturunan (nasl), harta/kekayaan (mal), dan intelek/akal (aql).

# Al-Ghazali menitikberatkan bahwa sesuai tuntunan wahyu, tujuan utama kehidupan umat manusia adalah mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.

# Al-Ghazali mendefinisikan aspek ekonomi dari fungsi kesejahteraan sosial dalam kerangka hierarki utilitas individu & sosial tripartite.

# Hierarki utilitas individu & sosial yang tripartite: kebutuhan (daruriat), kesenangan/kenyamanan (hajat), dan kemewahan (tahsinat).

# Hierarki utilitas individu & sosial yang tripartite merupakan klasifikasi peninggalan tradisi Aristotelian yang disebut kebutuhan ordinal.

# Kebutuhan ordinal terdiri dari kebutuhan dasar, kebutuhan terhadap barang-barang eksternal dan kebutuhan terhadap barang-barang psikis.

# Al-Ghazali juga memberikan nasihat kepada penguasa agar selalu memperhatikan kebutuhan rakyat dan tidak berperilaku zhalim.

# Ketika rakyat berkekurangan dan tidak berpenghasilan hidup, penguasa wajib menolong dengan menyediakan makanan dan uang dari kas negara.

# Al-Ghazali menolerir pengenaan pajak jika pengeluaran untuk pertahanan dan pos penting lain tidak tercukupi dari perbendaharaan negara.

# Mengenai evolusi pasar dan peranan uang, Al-Ghazali mengemukakan alasan pelarangan riba fadhl yang melanggar sifat dan fungsi uang.

# Al-Ghazali mengutuk mereka yang melakukan penimbunan uang dengan dasar uang itu sendiri dibuat untuk memudahkan pertukaran.

# Al-Ghazali berbicara mengenai harga yang dikenal sebagai al-tsaman al-adil (harga yang adil) atau equilibrium price (harga keseimbangan).

# Al-Ghazali mengklasifikasi aktivitas produksi menurut kepentingan sosialnya serta menitikberatkan perlunya kerja sama dan koordinasi.

# Al-Ghazali mengklasifikasi aktivitas produksi ala kontemporer, yakni primer (agrikultur), sekunder (manufaktur), dan tersier (jasa).

-Multisumber-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s