#Kultwit: Transaksi Terlarang dalam Ekonomi Islam

# Transaksi yang dilarang dalam muamalah: transaksi yang mengandung unsur riba, gharar, maysir, ihtikar, ta’alluq, risywah, bai’ najasy.

# Riba: penambahan pendapatan secara tidak sah: pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan (fadhl).

# Riba: transaksi yang mempersyaratkan Nasabah Penerima pinjaman mengembalikan dananya melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu.

# Bunga bank konvensional = riba. Hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal.

# Jadi, ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti.

# Berbeda dari prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. Nominal bagi hasil tergantung yang dihasilkan.

# Pada skema bagi hasil, yang dibagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.

# Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. Yaitu riba utang-piutang dan riba jual beli.

# Riba utang-piutang terbagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.

# Riba qardh adalah suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang (muqtaridh).

# Riba Jahiliyyah adalah utang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

# Riba Fadhl: pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar/takaran berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk barang ribawi.

# Riba Nasi’ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.

# Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.

# Transaksi yang mengandung unsur gharar juga dilarang. Menurut bahasa, gharar berarti ancaman/bahaya (risk or uncertainty).

# Definisi gharar: (a) Imam Sarakhsi: tidak diketahui hasilnya; (b) Imam Qorafi: tidak diketahui terjadi/hasil/tidak.

# Definisi gharar: (c) Imam Asnawi: dua kemungkinan yang paling dominan & paling ditakutkan; (d) Ibnu Taimiyah: tidak diketahui akibatnya.

# Definisi gharar: (e) Ibnu Qoyyim: yang tidak dapat diserah terimakan.

# Definisi gharar: (f) Musthofa Zarqa’: jual beli yang tidak jelas batasannya dan objeknya karena risiko sehingga mirip judi.

# Gharar: transaksi yang mengandung ketidakjelasan dan/atau tipuan; seperti bai’ ma’dum (jual beli sesuatu yang belum ada barangnya).

# Bentuk gharar: (a) tidak adanya kepastian penjual menyerahkan objek akad pada waktu terjadi akad, baik objek itu sudah ada maupun belum.

# Bentuk gharar: (b) menjual sesuatu yang belum berada di bawah penguasaan penjual.

# Bentuk gharar: (c) tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas barang/jasa.

# Bentuk gharar: (d) tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus dibayar dan alat pembayaran.

# Bentuk gharar: (e) tidak adanya ketegasan jenis dan objek akad.

# Bentuk gharar: (f) kondisi objek akad tidak dapat dijamin kesesuaiannya dengan yang ditentukan dalam transaksi.

# Bentuk gharar: (g) adanya eksploitasi karena informasi yang kurang/dimanipulasi dan ketidaktahuan atau ketidakpahaman yang ditransaksikan.

# Berikutnya adalah maysir. Secara sederhana, yang dimaksud dengan maysir atau perjudian.

# Maysir adalah suatu permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak yang lain akibat permainan tersebut.

# Setiap permainan/pertandingan, baik yang berbentuk game of chance, game of skill atau natural events, harus menghindari Zero Sum Game.

# Zero Sum Game adalah kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain harus menanggung beban pemain yang lain.

# Pada sebuah pertandingan, dana partisipasi/iuran dari para peserta tidak boleh dialokasikan untuk pembelian trophy/bonus untuk juara.

# Agar tidak terjadi maysir, trophy/bonus untuk para juara jangan berasal dari dana partisipasi para pemain, namun dari para sponsorship.

# Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas kemenangan pihak yang lain.

# Pemberian bonus atau trophy dengan cara tersebut dalam istilah fikih disebut sebagai hadiah, dan halal hukumnya.

# Transaksi yang dilarang berikutnya adalah ihtikar. Ihtikar disebut juga rekayasa pasar dalam supply.

# Rekayasa pasar dalam supply terjadi bila seorang produsen/penjual mengambil keuntungan di atas keuntungan normal.

# Ihtikar ini biasanya dilakukan dengan cara mengurangi supply agar harga produk yang dijualnya naik.

# Ihtikar dilakukan dengan membuat entry barrier: menghambat produsen/penjual lain masuk ke pasar, agar ia jadi pemain tunggal (monopoli).

# Karena itu, biasanya orang menyamakan ihtikar dengan monopoli dan penimbunan, padahal tidak selalu seorang monopolis melakukan ihtikar.

# Tidak setiap penimbunan adalah ihtikar. BULOG juga melakukan penimbunan, tetapi justru untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan.

# Negara, apabila memonopoli sektor industri yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak, bukan dikategorikan sebagai ihtikar.

# Syarat Ihtikar: (a) Mengupayakan adanya kelangkaan barang baik dengan cara menimbun stock atau mengenakan entry-barriers.

# Syarat Ihtikar: (b) Menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga sebelum munculnya kelangkaan.

# Syarat Ihtikar: (c) Mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan sebelum dua komponen tersebut dilakukan.

# Selain Ihtikar, transaksi terlarang berikutnya adalah bai’ najasy atau Rekayasa Pasar dalam Demand.

# Rekayasa pasar dalam demand terjadi bila seorang produsen/pembeli menciptakan permintaan palsu, sehingga harga jual produk itu akan naik.

# Hal ini terjadi misalnya dalam bursa saham (praktik goreng-menggoreng saham), bursa valas, dan lain-lain.

# Cara Bay’ Najasy: mulai dari menyebarkan isu, melakukan order pembelian, sampai benar-benar melakukan pembelian pancingan.

# Bay’ Najasy biasanya dilakukan agar tercipta sentimen pasar untuk ramai-ramai membeli saham/mata uang tertentu.

# Bila harga sudah naik, yang bersangkutan akan melakukan aksi ambil untung dengan melepas kembali saham/mata uang yang sudah dibeli.

# Transaksi yang dilarang berikutnya adalah ta’alluq yaitu ketergantungan akad dengan akad lainnya.

# Kesahihan suatu akad tidak boleh ada ketergantungan dengan akad yang lain.

# Ta’alluq terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan, di mana berlakunya akad 1 tergantung pada akad 2.

# Contoh ta’alluq: A jual barang ke B Rp120 juta secara cicilan, dengan syarat B harus jual kembali ke A secara tunai seharga Rp100 juta.

# Transaksi tersebut haram, karena ada persyaratan A bersedia menjual barang X ke B asalkan B kembali menjual barang tersebut kepada A.

# Dalam kasus tersebut, disyaratkan bahwa akad 1 berlaku efektif bila akad 2 dilakukan. Penerapan syarat ini mencegah terpenuhinya rukun.

# Dalam terminologi fikih, contoh ta’alluq di atas disebut dengan bai’ al-‘Inah.

# Transaksi dilarang berikutnya adalah risywah (suap) yaitu memberi sesuatu kepada pihak lain untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.

# Suatu perbuatan baru dapat dikatakan sebagai tindakan risywah (suap-menyuap) jika dilakukan kedua belah pihak secara sukarela.

# Jika hanya salah satu pihak yang meminta suap sedangkan pihak lain tidak rela/terpaksa/hanya untuk memperoleh haknya, disebut pemerasan.

# Pemberi suap dan penerima suap sama-sama bisa diseret ke pengadilan jika keduanya terbukti memiliki tujuan dan keinginan yang sama.

# Fukaha menegaskan bahwa hadiah-hadiah yang diberikan kepada para pejabat adalah bentuk suap, uang haram, dan penyalahgunaan wewenang.

# Pelaku suap disebut ar-rasyi, sedang penerimanya disebut al-murtasyi.

# Suap bisa berbentuk uang/fasilitas/lainnya yang melanggar hukum sebagai upaya mendapatkan fasilitas atau kemudahan dalam suatu transaksi.

-Multisumber-

One thought on “#Kultwit: Transaksi Terlarang dalam Ekonomi Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s