Tersendatnya Tumbuh Kembang Perbankan Syariah

Tersendatnya Tumbuh Kembang Perbankan Syariah

Bank Syariah hadir dengan niat untuk menyuguhkan sebuah sistem perbankan yang sesuai syariah. berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut dengan cara menghilangkan unsur produk yang tidak sesuai syariah, memodifikasi produk agar sesuai syariah, dan/atau membuat produk baru.

Setelah upaya ini dilakukan selama hampir 2 dekade, bank syariah “hanya” berhasil meraup 3% dari pangsa pasar. Sekitar 97% selebihnya tentu diraih oleh bank konvensional. Mengapa bisa demikian?

Pertama, masyarakat sudah terinstall dengan kebiasaan berbank secara konvensional lebih dari seabad. Kalau masyarakat butuh uang ya pinjam ke bank kemudian mengembalikannya dengan bunga x% atau kalau punya uang ya ditempatkan di bank kemudian memperoleh return x%.

Kedua, pemerintah Indonesia tetap tidak berkutik dengan hegemoni rezim ekonomi global berbasis bunga. Mau tidak mau, pemerintah harus mendukung penuh atau menomorsatukan tumbuh kembang perbankan konvensional.

Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa pemerintah sudah memberikan dukungan cukup signifikan terhadap tumbuh kembang perbankan syariah. Seperti disahkannya UU Tentang Perbankan Syariah, UU Tentang SBSN (Sukuk Negara), insentif pajak terhadap produk syariah, dan berbagai kemudahan lain.

Bank Indonesia juga secara simultan mengeluarkan Peraturan dan Surat Edaran Bank Indonesia yang mengatur operasional perbankan syariah. Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syariah Nasional MUI juga melayani industri ini dengan berbagai fatwa terkait operasional Lembaga Keuangan Syariah.

Ketiga, Infrastruktur bank syariah masih jauh dari memadai untuk bersaing dengan industri keuangan konvensional. Infrastruktur ini meliputi kemampuan pembentukan kantor bank syariah, IT support meliputi Core Banking System dan Delivery Channel. Meksipun demikian perlahan beberapa bank syariah mulai berbenah mengupgrade infrastruktur yang dibutuhkan.

Keempat, kualitas dan kuantitas SDM bank syariah masih tertinggal dibanding SDM bank konvensional. Silahkan diakui atau tidak. Dalam hal ini termasuk juga faktor gaji, kompensasi dan benefit yang diterima oleh Karyawan bank syariah yang masih kalah jauh dibanding perbankan konvensional.

Kelima, produk perbankan syariah yang dijanjikan bernilai lebih dibanding produk bank konvensional, ternyata masih serasa sama saja. Hanya ada perbedaan di sisi akad/skema alur produk.

Keenam, sosialisasi tentang ekonomi syariah yang masih kurang greget. Selain faktor budget promosi yang kecil, strategi komunikasi yang jauh dari efektif, berbagai pihak yang “memiliki massa” seperti ulama pun masih belum tahu persis apa yang harus dilakukan terkait keberadaan perbankan syariah ini. Atau bisa jadi ulama memang tidak perlu melakukan sesuatu terkait tumbuh kembang perbankan yang berlabel syariah ini.

Demikian sedikit dari sekian banyak faktor penyebab tersendatnya tumbuh kembang perbankan syariah jika dibandingkan dengan bank konvensional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s