Zakat Piutang (Tagihan Atas Pihak Lain)

Zakat Piutang (Tagihan Atas Pihak Lain)

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan. Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam: Piutang dapat dibagi tiga macam: 1. Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal. 2. Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun. 3. Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi. Oleh sebab itu, piutang ini tidak wajib dibayar zakatnya. Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat bila piutang telah digabungkan sebelumnya. Bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, piutang tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat. -Multisumber-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s