Gadai Emas Sesuai Syariah-kah?

—– Forwarded Message —-
From: AYeeP <fais1234@yahoo.com>
To: ekonomi-syariah@yahoogroups.com
Sent: Tue, February 1, 2011 12:38:48 AM
Subject: Re: [MILAD-10-MES] Gadai Emas Syariah, Biaya Sewa ditanggung LKS

Salam,

Mas iRham menulis

Menurut saya :
1. Gadai tidak timbul dari akad jual beli, klo dilihat dari dasar hukum rahn maka gadai muncul dari akan salaf / qardh/ pinjaman. Karena Rasul SAW, menggadaikan baju besi untuk jaminan atas pinjaman yang akan didapt.

Lho? Bukankah ayat 283 Al Baqarah yang dikemukakan oleh pak Totok juga merupakan dasar hukum? Maksud saya, dasar hukum rahn tidak terbatas pada hadis Rasulullah tersbut di atas -shalawat dan salam untuk beliau.
Bahkan ayat 283 lebih layak mendapat prioritas sebagai dasar hukum legalitas rahn mengingat status Al Qur’an sebagai sumber hukum utama dibandingkan Sunnah Rasulullah.

Satu lagi, informasi bahwa Rasulullah -rahmat Allah untuk beliau- menggadaikan baju besi sebagai jaminan pinjaman/qardh adalah informasi keliru yang sering muncul di perbagai kesempatan. Kekeliruan ini akibat keengganan merujuk kepada referensi utama/primer. Informasi yang didengar dari seseorang yang mumpuni sering sekali ditelan begitu saja atau (mungkin0 disalahpahami dan -sialnya- informasi tersebut terus mengalir berantai di kalangan pelajar ekonomi Syariah. Mereka sering bersikap  take for granted, enggan atau malas menguji keabsahan informasi.
Berdasarkan referensi utama yang saya pungut, Rasulullah tidak melakukan qardh kemudian memberikan jaminan baju besi. Yang beliau -kasih sayang Allah untuknya- lakukan adalah beliau membeli 30 shaa’ gandum dengan pembayaran tertunda. Lalu sebagai jaminan beliau menitipkan alias menggadaikan baju besinya.
Sampai sini, kesimpulan bahwa beliau gadaikan baju besinya didasari oleh qardh adalah tidak benar. Yang benar, beliau melakukan transaksi jualbeli dengan pembayaran tertunda lalu menggadaikan baju besi. Saya tidak perlu memperjelas sejauh mana perbedaan akad jualbeli dengan akad qardh.

Lebih parahnya lagi ketika pemahaman informasi yang keliru tersebut kemudian dijadikan pijakan untuk menarik kesimpulan bahwa gadai muncul karena qardh. Waduuuhhhh. Lha qardhnya siapa? wong Nabi itu gadaikan baju besinya -sekali lagi- bukan karena qardh. Ayo coba mulai sekarang mbok ya seneng buka-buka buku rujukan utama, suatu fenomena yang jarang dilakukan oleh mereka yang menggeluti bidang ekonomi syariah. Toh sudah ada media lengkap seperti DVD Syamilah untuk mempermudah kita menjadi “mujtahid”! Gak usah jauh-jauh ke perpustakaan sana sini. Cukup di rumah, buka laptop sambil ngopi dan merenung. Jadi deh mujtahid.

Satu lagi yang perlu mendapat kritik dari kacamata kuda saya adalah, mengambil kesimpulan bahwa gadai berasal dari jualbeli (berdasarkan ayat 283 Al Baqarah) adalah tindakan gegabah yang nilai gegabahnya seratus persen sama dengan gegabahnya mengambilnya kesimpulan bahwa gadai berasal dari qardh berdasarkan Sunnah Nabi.
Kedua kegegabahan ini bersumber pada 2 (dua) hal, yaitu ketidaktelitian dan penarikan kesimpulan berdasarkan data parsial !.

  • Pertama, Di mana -dalam bagian ayat 283- yang menunjukkan secara eksplisit atau bahkan implisit bahwa gadai berasal dari tijaroh yang lalu diterjemahkan menjadi jualbeli? Bahkan tafsir-nya pun tidak mengarah ke sana.Jangan lihat terjemah. Terjemah itu khan subyektif penerjemah. Ikut terjemahan identik taqlid dengan penerjemah. Kalaupun -katakanlah- ikut terjemahan, saya lihat terjemahannya di sana bermuamalah, bukan jualbeli. Lalu dari mana kesimpulan jualbeli ditarik atau dibetot?
  • Kedua, Di mana dalam bagian hadis gadai baju besi yang menunjukkan bahwa gadai Rasul berasal dari qardh? Tampaknya kita harus kembali lagi ke ruang kelas bagaimana metodologi melakukan kajian secara benar.

Dengan memahami semua sumber/dasar hukum terkait gadai, seharusnya kesimpulan yang dibuat adalah bahwa : gadai muncul karena adanya beban finansial (jika terjemahan kata dayn ini benar).
Jadi yang memunculkan akad gadai adalah dayn. Dayn tidak identik dengan qardh meskipun qardh bagian dari dayn.
Baiklah. Secara sederhana dayn adalah beban material atau finansial yang harus dibayar kepada yang berhak. Dulu waktu ngaji di tengah sawah, guru saya menerjemahkannya dengan “tanggungan”.

Dayn dapat muncul disebabkan oleh berbagai akad.

  • Saya berhutang (qardh) uang kepada si A, maka saya punya dayn kepada si A
  • Saya membeli sayur di pasar janji bayar seminggu lagi, maka saya punya dayn kepada tukang sayur itu.
  • Saya  merusak mobil orang maka saya punya dayn kepada pemilik mobil itu.
  • Saya menikahi seorang wanita dengan mahar dibayar setahun lagi, maka saya punya dayn kepada istri baru saya.
  • Saya membunuh orang lalu pihak keluarga menunutut diyah, gak nuntut qishash, maka saya punya dayn terhadap keluarga korban.
  • Saya mau bayar zakat, tetapi uang masih dipegang sama orang lain maka saya punya dayn kepada Allah.
  • dan banyak lagi contoh dayn. Jika contoh saya ini kurang, silakan buka referensi sekunder tentang  penyebab penampakan misteri dayn.

Nah, dayn-dayn inilah yang memicu mumculnya gadai. Itu sebabnya dalam definisi “apa itu gadai”, dijelaskan bahwa gadai adalah penentuan barang yang bersifat maaliy sebagai jaminan dayn bla bla bla  …. Perhatikan kata jaminan dayn dalam definisinya.
Tapi jangan dibantah, ah itu khan definisi bahasa! Lho, itu definisi berdasarkan terminologi disiplin fiqh, bukan etimologi. Ayo coba cek kembali. Ingat jangan take for granted dengan apa kata saya, meskipun saya selalu dituduh sebagai seorang tersangka mujtahid. Jangan percaya saya, cek lagi dan renungi sambil ngopi jagung. Kemrutuk🙂

Kesimpulannya, gadai muncul karena dayn. Bukan qardh, sebab kesimpulan ini tanggung, bahkan bisa jadi menyesatkan karena dibangun atas pemahaman yang keliru terhadap hadis gadai baju besi. Juga bukan karena jualbeli, sebab kesimpulan ini tanggung, bahkan bisa jadi menyesatkan karena ayat 283 Al Baqaarah -secara eksplisit dan implisit- tidak menjelaskan hal itu.

3. Perusahaan Gadai bukan perusahaan dagang ( diluar konteks produk murabahah emas di pegadaian, karena itu bukan produk inti).
No komen! terserah yang bikin perusahaannya! Murabahah emas itu juga produk ngawur … Paling tidak menurut kacamata kuda saya. Maunya sih -dengan murabahah emas-  ikut pendapat Ibnu Taymiyyah. Dalam faktanya, kalau Ibnu Taymiyyah bangkit dari kuburnya, pasti akan berteriak, “Hai bukan itu yang aku izinkan!” Lho? Jadi murabahah emas itu taqlid sama siapa? Mboh, gak keruan! Mau taqlid fatwa DSN?
Perasaan DSN belum keluarkan fatwa murabahah emas. Konon katanya sedang digodok. Tetapi jika benar digodok tentu sekarang sudah melepuh sebab konon yang saya maksud sudah lama.

2. Oleh sebab itu, Gadai bisa dijadikan instrumen untuk dapat ribhu/keuntungan. Masalah besar-kecil keuntungan, relatif.
Pernyataan ini mau dibawa kemana? Kalau mau dibawa ke sistem gadai syariah yang mengambil keuntungan dengan tameng biaya sewa barang gadaian maka pernyataan ini sama saja menelikung DSN! Saya gak mau ngomong. Saya tidak akan berikan pendapat. Biarlah fatwa anggota DSN yang kampiun dalam bidang fiqh yang menjawab..

Perhatikan fatwa DSN berikut dengan baik :

  • Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. (dikutip dari fatwa DSN no, 25 th. 2002)

Pernyataan fatwa DSN ini secara implisit- ingin mengatakan, “Wahai para Penggadaian Syariah. Janganlah kalian sekali-kali kalian mengambil untung dari hutang yang kalian pinjamkan (yang tersembunyi dalam akad gadai) kepada manusia-manusia di muka bumi. Sesungguhnya cukup kalian tibankan atas mereka biaya pemeliharaan dan penyimpanan saja. Janganlah kalian kait mengaitkan antara besar biaya pemeliharaan yang kalian tetapkan dengan besaran hutang yang kalian berikan. Maka sesungguhnya yang demikian itu adalah bunga, atau kalau kalian gak mau nyebutnya bunga, maka itu persis seperti bunga yang dilarang dalam Islam. Dan bertaqwalah kalian.” (Dengan bahasa sedikit dibikin kayak drama)

Perhatikan juga fatwa DSN berikut dengan baik-baik, hati yang obyektif serta jujur, tanpa memandang apa jabatan kita dalam suatu LKS, lepaskan segala baju kepentingan dan hanya menengok pada kebenaran keilmuan.

  • Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.(dikutip dari fatwa DSN no, 26 th. 2002)

Fatwa DSN ini -dengan eksplisitas kelas tinggi- ingin mengatakan, “Wahai para Penggadaian Syariah yang dirahmati Allah. Jika anda ingin menarik biaya pemeliharaan dan penyimpanan maka mangga, silakan atuhhh! Tetapi janganlah sekali-kali kalian me-mark-up biaya penyimpanan dan pemeliharaan sehingga lebih dari sekedar pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan. Wahai para Penggadaian Islami, Janganlah kalian meminta biaya pemeliharaan dan penyimpanan sesuai dengan pengeluaran yang kalian inginkan. (inginnya khan untung aja). Mengapa? Karena penarikan biaya di atas pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan adalah sama dengan “menarik keuntungan”. Dan “menarik  keuntungan” dari pinjaman dengan masker biaya penitipan gadai adalah riba, tepatnya riba nasii’ah. Maka takutlah kalian kepada siksa Allah yang amat pedih.”(Dengan bahasa yang didramatisir)

Dengan demikian, jika mas Irham berpikir bahwa gadai dapat dijadikan instrumen cari untung dengan cara seperti yang saya maksud baru saja, maka silakan berhadap-hadapan dengan DSN. Atau mungkin ada fatwa baru?
Sekali lagi, saya tidak mengomentari mas Irham. Tetapi fatwa DSN lah yang menjawab mas Irham yang menulis Gadai bisa dijadikan instrumen untuk dapat ribhu/keuntungan.Tentu saja jika ribh yang dimaksud di sini adalah ribh hasil mark-up biaya pemeliharaan marhuun seperti asumsi di atas . Jika ribh yang dimaksud mas Irham ditarik dengan cara selain asumsi yang saya tulis di atas, silakan mar Irham mengajukan skemanya.

4. Perusahaan Gadai bukan perusahaan dagang. Sama kayak Bank Syariah bukan perusahaan dagang (lebih variatif), tapi penyedia jasa keuangan. Dapat dilihat di Lap. Laba Rugi.

Yang ini no kemon lah, eh salah, no kemon, eh salah lagi, maksudnya no komen!

Pasti ada yang mau komentar. Alaaah loe Faishol bisanya ngomong doang!
Saya jawab, masih lebih baik lah dikit, daripada diam saat membaca ide yang tidak menarik.Tetapi kalau udah bosen memang sebaiknya diam aja. Toh diam itu emas dan hemat energi.

Salam,
Faishol


From: “irham_fachreza@yahoo.com” <irham_fachreza@yahoo.com>
To: ekonomi-syariah@yahoogroups.com
Sent: Sat, January 29, 2011 11:48:17 AM
Subject: Re: [MILAD-10-MES] Gadai Emas Syariah, Biaya Sewa ditanggung LKS

Aslm.

Menurut saya :
1. Gadai tidak timbul dari akad jual beli, klo dilihat dari dasar hukum rahn maka gadai muncul dari akan salaf / qardh/ pinjaman. Karena Rasul SAW, menggadaikan baju besi untuk jaminan atas pinjaman yang akan didapt.

3. Perusahaan Gadai bukan perusahaan dagang ( diluar konteks produk murabahah emas di pegadaian, karena itu bukan produk inti).

2. Oleh sebab itu, Gadai bisa dijadikan instrumen untuk dapat ribhu/keuntungan. Masalah besar-kecil keuntungan, relatif.

4. Perusahaan Gadai bukan perusahaan dagang. Sama kayak Bank Syariah bukan perusahaan dagang (lebih variatif), tapi penyedia jasa keuangan. Dapat dilihat di Lap. Laba Rugi.

Waslm

Wallahu ‘alam bis showab.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Totok Harmoyo <totok@harmoyo.com>
Sender: ekonomi-syariah@yahoogroups.com
Date: Fri, 14 Jan 2011 10:32:52 +0700
To: <ekonomi-syariah@yahoogroups.com>
ReplyTo: ekonomi-syariah@yahoogroups.com
Subject: [MILAD-10-MES] Gadai Emas Syariah, Biaya Sewa ditanggung LKS
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mohon pencerahannya….

2_283.PNG

Didalam forum ini banyak yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi dari saya, jadi saya kepingin mendapat pencerahan. berkenaan dengan ayat di atas, apakah bisa ditafsirkan bahwa :

  1. Sesungguhnya gadai merupakan akad yang timbul karena didahului oleh akad tijarah (jual-beli)
  2. Sesungguhnya, gadai itu bukan merupakan alasan untuk memperoleh keuntungan.
  3. Perusahaan yang bergerak dibidang jasa gadai, sesungguhnya adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan dan bukan lembaga keuangan seperti yang ada saat ini.
  4. Jika perusahaan gadai merupakan perusahaan dagang, keuntungan perusahaan tersebut diperoleh bukan dari jasa simpan barang, tapi justru dari kegiatan dagangnya.

Jika keempat hal di atas bisa diterima, berarti harus ada perubahan yang mendasar terhadap fatwa rahn dan bentuk badan hukum yang bergerak dibidang jasa gadai di Indonesia saat ini.

mohon pencerahannya. terima kasih.

———————————————————————————
Wassalam, Hormat Saya :

Totok Harmoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s