Sejarah Ushul Fikih

SEJARAH SINGKAT USHUL FIQIH

Para ahli sejarah fiqh Islam mengakui bahwa ushul fiqh lahir bersamaan dengan lahirnya ilmu fiqh, Pendapat tersebut cukup logis mengingat secara metodologis, fiqh tidak akan lahir tanpa ada metode istimbath. Metode Istimbath inilah yang menjadi inti Ushul Fiqh.

Dalam sejarah Islam, fiqh sebagai hasil ijtihad para ulama, lebih dahulu populer dan dibukukan dibanding dengan ushul fiqh. Perumusan fiqh dilakukan pasca wafatnya Nabi SAW, yaitu periode sahabat.. Sementara Ushul Fiqh sebagai sebuah metode Istimbath, baru tersusun sebagai sebuah bidang keilmuan pada abad 2 H yaitu oleh Imam Syafi’i (150-204 H).

 

Ushul Fiqh Sebelum Dibukukan

A. Zaman Nabi SAW

Pada zaman Rasulullah, Sumber Hukum ada 2, yaitu:

1) Al-Quran dan Sunnah

2) Ijtihad dgn Qiyas

Pertumbuhan Ushul Fiqh tidak terlepas dari pertumbuhan fiqh sejak zaman Rasulullah SAW. Jadi, praktek ushul fiqh sebenarnya telah ada sejak masa Rasulullah Saw, Namun penyunannya secara sistimatis dan komprehensif dalam bentuk buku,baru pada abad 2 H. Sumber hukum Islam di masa Nabi hanya 2, yaitu Alquran dan Sunnah. Jika muncul suatu kasus, Rasul menunggu wahyu diturunkan,Jika wahyu tidak turun, maka beliau berijtihad. Hasil Ijtihad ini disebut dengan hadits (Sunnah Hasil Ijtihad Nabi juga disebut Wahyu (An_Najm : 4)

Nabi menggunakan Qiyas dalam menjawab pertanyaan sahabat (Umar) tentang batal tidaknya puasa seseorang yang mencium istrinya.

Rasul Saw bersabda,”Apabila kamu berkumur-kumur dalam keadaan puasa, apakah puasamu batal”? Umar menjawab, Tidak Batal.

Cara-cara Rasul seperti inilah yang menjadi bibit munculnya ilmu ushul fiqh. Di masa Nabi, seringkali para sahabat “dilatih” berijtihad dalam berbagai kasus, seperti:

a. Kasus Shalat Ashar di Bani Quraizah,

Nabi menyuruh para sahabat agar shalat ashar di desa Bani Quraizah (BQ), namun ternyata sebelum mereka sampai di desa tersebut, waktu ashar hampir habis.Maka sebagian sahabat melakukan shalat ashar di perjalalan meskipun belum sampai di Desa Bani Quraizhah, karena.Jika shalat ashar di tempat tujuan, waktunya diprediksi sudah magrib.Sebagian sahabat tidak mau shalat di perjalanan, karena Nabi memerintahkan tadinya shalat ashar di Desa Bani Quraizhah.Mereka ashar di Desa tujuan.

Kepada kelompok yang shalat, Nabi mengatakan “Anda telah kreatif memahami Pesanku dengan melaksanakan shalat Di perjalanan”

kelompok yang shalat di perjalanan ini memahani nash Secara rasional dan kontekstual merupakan Bibit Ahli Ra’y

Kepada kelompok yang tidak shalat di jalan Tapi di desa BQ Nabi mengatakan “Anda telah mengamalkan sabdaku”

kelompok yang shalat di Desa Tujuan, Kelompok ini mehami nash Secara literal (tekstual) merupakan Bibit Ahli Hadits

 

b. Kasus tawanan perang,

Pada suatu saat Islam menang dalam sebuah peperangan dan memiliki tawanan perang yang pandai membaca. Pada saad itu ada beberapa pendapat para sahabat, yaitu ada kelompok yang menyatakan sebaiknya dibunuh saja karena mereka tawanan perang dan golongan kafir. Akan tetapi ada juga kelompok yang menyatakan bahwa sebaiknya jangan dibunuh, karena para tawanan perang tersebut pandai membaca (berpendidikan) sebaiknya mereka dihukum untuk mengajari umat Islam membaca. Pada saat itu banyak sekali umat Islam yang tidak pandai membaca.

Akan tetapi ada keraguan yang besar dari kelompok yang menyatakan sebaiknya dibunuh saja bahwa kelak para tawanan tersebut akan menjadi duri dalam daging bagi umat Islam.

Kemudian Rasulullah mendapatkan ayat yang menyatakan bahwa para tawanan yang pandai membaca tersebut jangan dibunuh, tapi dihukum untuk mengajar umat Islam membaca, sampai seluruh umat Islam di daerah itu pandai membaca, setelahnya tawanan dapat dibebaskan. Karena jumlah umat Islam yang tidak pandai membaca sangat banyak, maka butuh waktu yang sangat lama bagi para tawanan untuk bebas. Malah akhirnya para tawanan itu menjadi umat muslim.

c. Kasus Tayamum Ibnu Mas’ud dan Umar bin Khaththab.

Pada suatu hari Umar dan Ibnu Mas’ud mau melaksanakan shalat,tapi tidak ada air. Maka mereka bertayammum, kemudian mereka melaksanakan shalat.Beberapa saat selesai shalat, tiba-tiba mereka menemukan air. Seorang kembali berwudhu’ dan melaksakan shalat, Sementara seorang lagi tidak mengulangi lagi wudhu’ dan shalatnya. iapa yang dibenarkan Rasulullah SAW? Rasulullah tidak menyalahkan salah satu di antara mereka.

Kepada Ibnu Mas’ud ia berkata,”Laka Ajrani” (Bagimu dua pahala), sedangkan kepada Umar, Rasulullah SAW berkata, “Ajzaatka Shalatuka”, (shalatmu yang sekali itu telah memadai (cukup), tak perlu diulang lagi).

Berdasarkan contoh-contoh kasus tersebut, dapat diketahui bahwa Ijtihad tersebut ada yang ditaqrir (diakui) Rasulullah (Kasus 1), ada yang turun ayat tentangnya (Kasus 2) dan ada yang dibenarkan Rasulullah (Kasus 3).

 

B. Zaman Sahabat

Pada masa sahabat, Sumber Hukum terdiri dari:

1) Al-Quran

2) Sunnah

3) Qiyas

4) Ijma

5) Maslahah

6) Ijtihad Umar & Ali

 

a. Ijtihad Umar

Umar dikenal sebagai tokoh inovatif dalam berijtihad. Ijtihad Umar antara lain:

1) Kasus tanah Sawad di Iraq

Umar tidak memberikan harta ghanimah (hasil perang) kepada prajurit Islam, walaupun menurut Al-quran (Al-Anfal 41), bahwa 80 % hasil tersebut harus diserahkan kepada prajurit Islam yang telah berhasil membebaskan daerah tsb. Hal ini dilakukan karena Umar punya alasan yang rasional, yaitu:

Jika penduduk asli dibiarkan mengusainya,maka mereka akan bayar kharaj yang menjadi income untuk biaya menjaga perbatasan daulah Islam

Jika ghanimah diberikan, Umar khawatir para sahabat akan menjadi tuan-tuan Tanah

 

2) Kasus tidak memberi zakat pada Muallaf

Umar tidak memberikan zakat kepada muallaf, padahal menurut Al-quran (5:60), mereka berhak mendapat. Hal ini dilakukan Umar dengan alasannya yang rasional, yaitu:

Dulu di masa Rasulullah dan Abu Bakar, Islam belum kuat dan belum banyak jumlahnya, maka diperlukan upaya pelunakan hati orang yang baru masuk Islam agar tertarik kepada Islam dan makin banyak yang masuk Islam,Tetapi di masa Umar, Islam telah kuat, tidak begitu dibutuhkan lagi pelunakan hati melalui Materi (dana zakat).

3) Kasus tidak memotong tangan pencuri Umar menggunakan Maslahah (Istishlah)

Umar tidak memotong tangan pencuri, padahal menurut Al-quran (5:38) mereka harus dihukum.

Alasan rasional Umar atas kasus ini adalah karena pada masa itu suasana ekonomi sangat gawat ( paceklik), yang disebut dengan amul maja’ah, yaitu tahun kelaparan

b. Ijtihad Ali bin Abi Thalib

Ali menggunakan qiyas, yaitu mengqiyaskan orang yang meminum khamar dengan hukuman orang yang melakukan qazaf (menuduh berzina)Hukuman pelaku qazaf ialah dera 80 kali, Ali juga menghukum peminum khamar dengan dera (pukul) 80 kali.

Apabila diperhatikan secara cermat, para sahabat mengistimbath hukum, mula-mula dengan memperhatikan teks-teks Al-Quran kemudian Sunnah.Bila hukumnya tidak ditemukan di dalam keduanya, mereka melakukan ijtihad dan mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan hasil kesepakatan mereka dikenal dengan ijma’ sahabat.

Sahabat telah menggunakan metode qiyas dan istislah dalam berijtihad. Mereka juga telah menggunakan ijma’sebagai sumber hukum

 

Hirarki Penggunaan Dalil Oleh Sahabat

Alquran

Sunnah

Ijtihad (Qiyas Istislah)

Ijma’

 

C. Zaman Tabi’in

Pada masa tabi’in, sumber hukum Islam terbagi atas:

1) Ahli ra’y & Ahli Hadits

2) Metode Istimbath;Qiyas,fatwa sahabat

Di masa tabi’in, permasalahan hukum semakin kompleks. Para tabi’in melakukan ijtihad di berbagai wilayah Islam. Di Madinah, ada Said bin Musayyab Di Irak An-Nakhai dan Al-Laits metode ulama dalam mengistimbath hukum bisa berbeda, ada yang menggunakan maslahat dan ada yang menggunakan qiyas Kelompok ulama inilah yang melahirkan Aliran fiqih ahli ra’yi dan ahli hadist.

Ahli ra’yi lebih banyak menggunakan ra’y (rasio) dibanding ahli hadits dalam mengistimbath hukum. Ahli hadits dalam menyelesaikan berbagai kasus berusaha mencari illat hukum, sehingga dengan Illat ini mereka dapat menyamakan hukuman kasus yang dihadapi dengan kasus yang ada nashnya. Mereka juga sering mencari rahasia dan maqashid suatu dalil syara’, seperti benda zakat yang bisa diganti dengan uang.

 

Masa Pembukuan Ushul Fiqh

D. Zaman Imam Mujtahid/ Mazhab

1) Metode Qiyas, Istihsan, Maslahah, Amal ahli Madinah,dll

2) Pembukuan Ushul Fiqh

 

Pembukuan Ushul fiqih dilakukan pada masa Imam Mujtahid/Imam Mazhab (Para Imam Mujtahid), yang terdiri dari:

1) Imam Abu Hanifah (80—150H)

2) Malik bin Anas (93-179 H)

3) Imam Syafi’I (150-204 H)

4) Ahmad bin Hanbal (164-241 H)

Salah satu pendorong diperlukannya pembukuan ushul fiqh adalah perkembangan wilayah Islam yang makin luas, yang berimplikasi bagi munculnya berbagai persoalan baru yang membutuhkan jawaban hukum syara.Untuk itu para ulama sangat membutuhkan kaidah-kaidah yang standar dan sudah terbukukan untuk dijadikan rujukan dalam menggali dan menetapkan hukum

Para pengikut mazhab masing-masing mengklaim gurunya (pendiri mazhabnya) sebagai penyusun pertama ushul fiqh, yaitu:

a. Golongan Hanafiyah mengklaim Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani sebagai orang pertama menyusun ilmu ushul fiqh Alasannya, Abu Hanifah adalah orang pertama yang menjelaskan metode istimbath dalam buku Ar-Ra’y, sedangkan Abu Yusuf menyusun tulisan Ushul Fiqh. Demikian pula Muhammad bin Hasan Menyusun Kitab Ushul Fiqh sebelum Syafi’i

b. Golongan Malikiyah juga mengklaim Imam Malik sebagai orang pertama berbicara ilmu ushul fiqh. Tapi mereka tidak mengklaim Imam Malik sebagai orang Pertama menyusun kitab Ushul Fiqh

c. Syi’ah Imamiyah juga mengklaim Muhammad Baqir Ibnu Ali Ibn Zainal Abidin kemudianm diteruskan putranya Ja’far Shodiq,

d. Golongan Syafi’iyah juga mengklaim Imam Syafi’i sebagai orang pertama menyusun Kitab Ushul Fiqh dengan nama Ar-Risalah

Klaim Hanafiyah dibantah Ali Abdul Raziq, bahwa Abu Yusuf dan Asy-Syabani menyusun ushul fiqh sangat cenderung untuk mendukung metode istihsan gurunya yang sangat ditentang ahli hadits.

Orang yang menyusun ilmu ushul fiqh secara lengkap dan komprehsnif dan tidak sektarian adalah Imam Syafi’ dengan karya Ar-Risalah

Klaim Malikiyah wajar, namun harus dicatat, bahwa pembahasan ushul fiqh dengan metodologi ushul juga sudah terjadi di masa sahabat dan tabi’in, Jadi bukan Imam Malik yang pertama membicarakan Ushul Fiqh

Imam Syafii dianggap sebagai ulama pertama menyusun Ilmu ushul fiqh, karena beliau secara komprehensif telah merumuskan kaidah-kaidah fiqhiyyah bagi setiap bab dalam bab-ban fiqh, menganalisisnya serta mengaplikasikan kaedah-kaedah itu atas masalah furu’.

Imam Syafii dalam Ar-Risalah berhasil merumuskan kaidah-kaidah yang dapat menolong ulama untuk mengistimbath hukum dari sumber-sumber syar’i, tanpa terikat pendapat seorang faqih (ulama) tertentu, sehingga ushul fiqhnya betul-betul independen dan sempurna

Jalaluddin Al-Suyuthi berkata, “Disepakati bahwa Asy-Syafii adalah peletak batu pertama Ilmu ushul fiqh yang lengkap dan independen. Dia orang pertama yang menulis ilmunya secara tersendiri.

Adapun Malik dalam Al-Muwaththa hanya menunjukkan sebagian kaedah-kaedah, demikian pula Abu Yusuf dan Muhammad Hasan Syaibani.

Ushul Fiqh Pasca Syafi’i

E. Zaman Pasca Syafi’i

Pada masa pasca Syafi’i, ada 3 tahap perkembangan ushul fiqih, yaitu:

1) Tahap Awal (abad 3 H)

a. Ar-Risalah sebagai rujukan

Ar-Risalah yang merupakan karangan Asy-Syafi’I adalah kitab ushul fiqih yang pertama tersusun secara utuh dan terpisah dari kitab-kitab lainnya. digunakan sebagai rujukan utama para ulama dan diilai tinggi yang juga digunakan untuk mengetahui tingkatan dalil-dalil syar’i.

b. Aktivitas pensyarahan ushul fiqh dimulai

Pasca Ar-Risalah banyak lahir kitab ushul, tetapi tetap tergantung pada Ar-Risalah Asy-Syafi’i, bukan pemikiran orisinil, seperti:

– Itsbat al-Qiyas, Khabar Wahid : Isa Ibnu Iban (w.221H/835 M)

– An-Nakt oleh Ibrahim An-Nazzam (w.221H/835 M)

– Kitab Ushul oleh Daud Zahiry (w.270 H/833 M)

Zahiry juga menulis Al-Ijma’, Ibthal At-Taqlid, Ibthal A- Qiyas, Al-Khushus wa Al-Umum, Al-Khabar Al-Mujib li Al-‘Illm, Al-Hujjat, al-Mufassar wa Al-Mujmal, dan Al-ushul

c. Muncul 2 aliran

Muncul aliran-aliran ushul fiqh, yaitu: Syafi’iyah Mutakal limin dan Aliran Hanafiyah. Syafi’iyah tidak menerima cara penggunaan istishsan yang masyur di kalangan Hanafiah, dan sebaliknya Hanafiah tidak menggunakan cara-cara pengambilan hukum berdasarkan hadis-hadis yang dipegang oleh Safi’iyah

Maraknya aktivitas pensyarahan kitab ushul menunjukkan kajian ilmiah tetap hidup, dinamis dan berkembang, sehingga teori ushul fiqh makin rinci, jelas dan komprehensif. Jadi meskipun pintu ijtihad muthlak telah mulai ditutup,, tetapi hal itu tidak melemahkan kajian pengembangan ushul fiqh

 

2) Tahap Perkembangan (abad 4 H)

a. Pintu ijtihad Ditutup

Pada masa ini pemikiran liberal Islam berdasarkan ijtihad muthlaq berhenti, yaitu pada abad 4. Mereka menganggap para ulama erdahulu suci dari kesalahan sehingga seorang faqih tidak mau lagi mengeluarkan pemikiran yang khas, terkecuali hal-hal yang kecil saja.

Akibatnya, aliran-aliran fiqih yang ada semakin mantap eksistensinya, apalagi disertai fanatisme penganutnya. Hal ini ditandai dengan adanya kewajiban menganut suatu mazhab tertentu dan larangan berpindah mazhab sewaktu-waktu.

b. Mensyarah, Memperjelas Illat hukum,

Kegitan ilmiah di bidang Ushul hanya untuk menyempurnakan pemikiran pendahulunya dalam bentuk pensyarahan, pentarjihan yang cenderung untuk membela dan memperkuat pendapat mazhabnya

c. Mentarjih

Memperbanyak pengandaian-pengandaian dalam masalah hukum berupa prediksi hukum di masa depan untuk memberi jawaban hukum yang mungkin terjadi in the futdimasa yang akan datang. Contoh, jika kambing melahirkan manusia, bolehkah anak itu disembelih jadi kurban? Bolehkan ia menjadi Imam Shalat?

d. Pengandaian-pengandaian

Dimana untuk setiap kasus yang dihadapi mereka berusaha mencari ‘illatnya, sehingga dengan ‘illat ini mereka dapat menyamakan hukum kasus yang dihadapi dengan hokum yang ada nash-nya. Sikap ini bukan berarti para ulama Iraq meninggalkan Rasulullah, tetapi karena sedikitnya Sunnah Rasulullah yang sampai ke Iraq.

e. Corak filsafat

Ushul Fiqh diwarnai filsafat pada abad ke 4 H ini muncul kitab-kitab Ushul sebagai berikut:

– Kitab Ushul Al-Kharkhiy ditulis Abu Hasan UbaidillahAl-Karkhiy

– Kitab Fushul fil Ushul oleh Al-Jashshaah

– Bayan Kasyful Ahfaz oleh M.Badaruddin Mahmud Al-Lamisi al-Hanafi

Catatan: Kajian kitab ini lebih sempurna,bersifat utuh dan spesifik ushul

 

3) Tahap Penyempurnaan (abad 5-6 H)

a. Penulisan ushul Fiqh terpesat

Penulisan ushul Fiqh terpesat yang ditandai oleh lahirnya buku-buku Standar yang sempurna:

– Al-Mughniy fi Al-Abwab Al-‘Adl wa At-Tawhid ditulis Al-Qadhi Abd Jabbar (w.415 H/1024 M)

– Al-Mu’amad fi Ushul Fiqh ditulis Abu Al Husain Al-Bashri (w.436 H/1044 M)

– Al-Iddaf fi ushul Al-Fiqh ditulis Al-Farra’ (w. 458 H/1065 M)

– Al-Burhan fi Ushul Al-Fiqh ditulis Al-Juwaini Imam Harmain (w.478H/1094 M)

Menurut Ibnu Khaldun ini kitab standar Ushul Fiqh

Al-Mustashfa min Ilm Al-Ushul ditulis Abu Hamid Al-Ghazali (w.505 H/1111 M)

 

Kitab ini juga merupakan kitab standar

b.Lahir buku-buku Standar yang Lebih sempurna

Interelasi/Interkoneksi berbagai aliran ushul

c. Kristalisasi aliran ushul

Para ulama mutaakhkhirin (generasi belakangan) memperdalam ilmu ushul dengan lintas mazhab. Ulama Syafii, Maliki dan Hanbali, misalnya banyak menyusun ushul fiqh menurut /memasukkan metode, Hanafiyah, seperti Al-Qarafi yang berasal dari mazhab Maliki. Ia menggunakan metode mazhab Hanafi dan Maliki. Demikian pula Imam Asnawi yang berasal dari Asy-Syafii, Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim, dari mazhab Hanbali.Bahkan Syiah Imamiyah dan Zaidiyah juga menggunakan metode mazhab Hanafi

Sumber: Agustianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s