Contoh-contoh Penerapan Kaidah Fikih Muamalah

Contoh-contoh penerapan kaidah:

Contoh 1.

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Artinya: Menolak suatu kemudharatan lebih didahulukan daripada meraih manfaat (keuntungan).

Kaidah ini dapat digunakan untuk menetapkan hukum apakah boleh atau haram. Jika sesuatu mengandung mudharat dan manfaat, maka yang diperhatikan dalam penetapan hukumnya adalah kemudharatannya, meskipun terdapat manfaatnya. Bunga Bank sekalipun terlihat ada manfaatnya bagi orang tertentu, namun hukumnya haram, karena kemudhratan yang ditimbulkannya jauh lebih besar, sehingga bunga bank konvensional menjadi haram. Hal ini sama dengan minuman keras yang juga mengandung manfaat dan mudharat (QS. 2:119) tetapi yang diperhatikan adalah kemudharatannya.

Contoh 2; Ta’arudh antara saad zariah dengan maslahah

Credit card syariah bagaimanapun mengandung manfaat bagi masyarakat dan tujjar (pebisnis) serta sangat dibutuhkan di zaman electronic dewasa ini, maka berdasarkan ini, kartu kredit boleh, karena dibutuhkan untuk mempermudah transaksi keuangan. Sesuai dengan kaidah :

Artinya: Kebutuhan itu terkadang menempati posisi dharurat.

Dengan demikian kartu kredit mengandung maslahah, tetapi disisi lain kartu kredit dapat menimbulkan konsumerisme dan debt trap (kemudharatan) bagi pemegangnya, maka berdasarkan dalil saad zari’ah credit card dilarang.

Dengan demikian dalam masalah kartu kredit terjadi pertentangan dua dalil, yaitu antara maslahah dan sadd zari’ah. Lalu bagaimana menyelesaikan dua pertentangan dalil ini. Untuk itulah para ulama menggunakan kaidah:

ما حرم سد الذريعة أبيح للمصلحة الراجحة

Artinya : sesuatu yang haram karena saad zari’ah bisa diperbolehkan kerena kemaslahahan yang kuat,

Berdasarkan keadah tersebut, maka diperbolehkanlah penggunaan credit card syariah yang tentu saja sesuai dengan konsep syariah dengan akad hiwalah atau menurut DSN dapat menggunakan akad kafalah wal ijarah dan qardh wal ijarah.

Bagi bank syariah yang tidak menyetuhui credit card dapat mengembangkan praktik debet card bukan credit card.

Contoh 3: Pertentangan dua dalil (secara zhahir)

Contoh kerja ushul fiqh dalam hal ini terlihat pada penyelesaian ta’arudh (pertentangan) dua dalil hadits , seperti seperti hadits Ibnu Abbas, dengan hadits riba fadhl riwayat Bukhari-Muslim. Menurut Ibnu Abbas, tidak ada riba fadhal, sedangkan menurut hadits Bukhari Muslim ada riba fadhal.

Hadits riwayat Ibnu Abbas “Sesungguhya riba itu hanya ada pada nasiah.”

Contoh 4: Kerja ushul fiqh : pada metode Sadd Zari’ah

Larangan terhadap bay’ al-’inah, didasarkan pada dalil sadd zari’ah, yaitu untuk menutupi jalan riba. Bay’ al-inah hanya seperti kamuflase saja dalam menghalalkan jual beli hutang, padahl sebenarnya ia bentuk riba.

Contoh lain adalah pemberlakuan denda pada nasabah nakal pada kasus bay’ murabahah dan perintah wajib memakai helm bagi pengendera sepeda motor. Pemberlakukan denda ini untuk mencegah agar nasabah tidak wanprestasi.

Contoh 5: Fath al Zari’ah

Penerapan risk management di bank syariah adalah wajib, didasarkan pada dalil fath al-zari’ah, sebab tanpa risk management, maka dana masyarakat yang dikelola bank akan terancam rugi. Contoh penerapan fath al-zari’ah dalam ibadah ialah kewajiban berwudhu’ sebagai syarat sahnya shalat.

Contoh 6: Istihsan dan ‘Uruf

Penerapan isihihsan dan ‘urf dalam ekonomi Islam terdapat pada hukum kebolehan jual beli istisna, jual beli salam, dan jual beli mu’athah

Contoh 7: ‘Uruf:

Penerapan ‘urf dalam ekonomi Islam terlihat pada jual beli wafa’, praktik urbun dalam jual beli, franchising, dan konsinyasi.

Sumber: Agustianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s