Pengantar Ushul Fikih

PENGANTAR USHUL FIQH

Ilmu ushul fiqh memiliki kedudukan yang sangat penting dalam memahami kandungan Al-quran dan hadits. Orang yang ingin memahami dalil-dalil syariáh (Al-quran & Sunnah) dan menetapkan hukum suatu kasus, mestilah mengetahui secara baik qaidah-qaidah ushul fiqh. Imam Asy-Syatibi (w.790 H), mengatakan, mempelajari ilmu ushul fiqh merupakan sesuatu yang dharuri (sangat penting dan mutlak diperlukan), karena melalui ilmu inilah dapat diketahui kandungan dan maksud setiap dalil syara’ (Al-quran dan hadits) sekaligus bagaimana menerapkannya.

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber kepercayaan, sumber hukum dan sumber nilai-nilai Islam yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak. Teks-teks Alquran dan hadits tersebut harus dipahami dan digali kandungannya dengan menggunakan disiplin ilmu khusus, yakni ilmu ushul fiqh. Tanpa ilmu ushul fiqh, kandungan hukum dan diktum-diktum hukum Alquran dan hadits tidak akan bisa diformulasikan. Artinya, tanpa ilmu ushul fiqh, maka ayat-ayat Al-quran dan teks-teks hadits tidak akan bisa digali untuk melahirkan fiqh (hukum Islam).

Dengan demikian, ushul fiqih merupakan metodologi perumusan hukum Islam (istimbath) dari sumbernya. Hasil istimbath tersebut menghasilkan hukum Islam (fiqih), yang kemudian fiqh tersebut dipergunakan oleh umat Islam sebagai norma dan aturan dalam kehidupan sehari-hari secara terapan.

Dalam pengembangan fiqh terapan, dapat pula digunakan qaidah-qaidah fiqh sebagai petunjuk dan prinsip yang harus diikuti. Jika ushul fiqh opbyeknya adalah dalil-dalil syariah, maka qaidah fiqh obyeknya adalah perbuatan/tingkah laku manusia yang terkait dengan hukum.

Dalam memahami syariah Islam, para ulama ushul fiqh umumnya menggunakan dua bentuk pendekatan:

1. Melalui Qaidah-qaidah Kebahasaan (Arabic Grammar and Lexicon)

Pendekatan melalui qaidah-qaidah kebahasaan adalah untuk mengetahui dalil-dalil yang ‘am (umum) dan khash (khusus) , muthlaq – muqayyad, nasikh-mansukh, amr (bentuk perintah), nahy (bentuk larangan), dsb.

2. Melalui pendekatan maqoshid syariáh

Pendekatan maqashid al-syariáh, adalah penetapan hukum syariah berdasarkan maksud dan tujuan syariah, yakni berdasarkan pertimbangan kemaslahatan. Jadi, penekanannya terletak pada upaya menyingkap dan menjelaskan hukum dari satu kasus yang dihadapi melalui pertimbangan maslahah.

Maqashid Syariah diterapkan baik terhadap kasus yang ada nashnya dalam Al-quran dan hadits, maupun terhadap kasus yang belum ada nashnya. Penerapan maqashid syariah pada kasus yang ada dalilnya dalam Al-quran terlihat pada beberapa ijtihad Umar bin Khattab dan ijtihad Ibnu Taymiyah terhadap teks hadits mengenai tas’ir (intervensi harga) sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.

Sedangkan teori yang digunakan untuk menyingkap dan menjelaskan hukum syariah dari berbagai kasus yang tidak ada nashnya secara khusus dapat diketahui dengan metode (istislah dan maslahah mursalah) , istihsan, sadd zariáh, úrf, istishab, qaul shahabi dan dsb. Jadi, berbagai metode yang digunakan dalam menyingkap dan menjelaskan hukum pada setiap kasus yang tidak ada nashnya, harus berorientasi kepada kemaslahatan.

Penetapan hukum Islam berdasarkan pendekatan maqashid syariah pada umumnya sejalan atau muthabaqah dengan pendekatan kebahasaan. Seperti kewajiban shalat dan puasa yang difahami dari sejumlah ayat. Menurut pendekatan maqashid, shalat dimaksudkan untuk memelihara agama (hifzud al-din). Menurut pendekatan kebahasaan (lughawi), shalat menjadi kewajiban yang mesti dilaksanakan.

Namun terkadang, pendekatan maqashid syariah dapat meninggalkan makna tekstual suatu ayat dan hadits dan dengan sendirinya mengabaikan pendekatan kebahasaan, dasarnya adalah pertimbangan kemaslahatan dan prinsip-prinsip umum, seperti keadilan dan kemudahan (taysir).

Penerapan maqashid seperti ini selalu terjadi dalam masalah mu’amalah. Sekalipun secara literal terlihat menyimpang dari teks, namun berdasarkan prinsip-prinsip umum Al-quran, penetapan suatu hukum tertentu adalah mengamalkan tujuan umum Al-quran. Terlalu banyak contoh dalam masalah ini, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.

Untuk memantapkan dan melengkapi pendekatan maqashid syariah diperlukan pengetahuan tentang tarikh tasyri’, yaitu bagaimana ulama menetapkan hukum sepanjang sejarah, mulai dari sejarah tasyri’ di masa Nabi, masa sahabat, tabi’in, imam mazhab, sampai kepada zaman taqlid dan kebangkitan kembali ijtihad.

Dengan mempelajari bagaimana cara (metode) ulama menetapkan hukum di zamannya, akan memberikan ilmu tersendiri bagi kita saat ini untuk menetapkan hukum-hukum Islam di era kontemporer. Misalnya bagaimana Umar bin khattab menetapkan hukum syariah dalam menghadapi berbagai kasus yang beliau hadapi. Bagaimana Abu Bakar berijtihad dalam masalah zakat perusahaan (syirkah), bagaimana Ibnu Taymiyah berijtihad dalam mekanisme pasar, bagaimana Abu Yusuf berijtihad tentang teknis penghitungan kuantitas pajak (kharaj) yang berbeda dengan teknis Umar bin Khattab. Semua metode ijtihad mereka perlu dicontoh untuk menjawab problematika ekonomi Islam yang senantiasa muncul dan berkembang.

Sumber: Agustianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s