Hutang Piutang dengan Landasan Emas sebagai Perhitungan

From: Muhammad Faiz Aziz <mfaizaziz@yahoo.com>
To: Milis Ekonomi Syariah <ekonomi-syariah@yahoogroups.com>
Cc:
Sent: Tuesday, December 21, 2010 8:00:31 AM
Subject: [MILAD-10-MES] Tanya tentang Hutang Piutang dengan landasan emas sebagai perhitungan

 

Assalamualaikum rekan2,

 

Bila di postingan2 sebelumnya ada rekan yang bertanya tentang pinjaman dengan menggunakan Logam Mulia (tidak dengan uang).

 

DI postingan saya kali ini agak sama dengan rekan tadi tapi juga berbeda.

 

Saya punya saudara namanya A yang hendak meminjam uang. Let say IDR 15 juta. Dia hendak meminjam kepada saudara yang lain namanya B. Oleh karena banyak pengalaman uang tidak balik bila saudara2 lain pinjam uang, maka si B meminta ada perjanjian tertulis dan jangka waktu tertentu. Anggaplah 1 tahun (karena saya tidak tahu persis jangka waktunya).

 

Si A setuju dan bahkan kemudian mem-propose dasar perhitungannya menggunakan Emas. B setuju usulan A (tapi ini masih belum tertuang dalam perjanjian tertulis). Jadi, pinjaman 15 juta ini kemudian di convert menjadi emas murni. Apabila nilai emas per gram adalah Rp. 400rb/gram maka jumlah gram emas yang jadi dasar perhitungan adalah 37,5 gram (15 juta/400 rb).

 

Ketika saya dengar hal ini saya kaget, karena harga emas itu akan naek dan bahkan diprediksikan naek hingga 500rb di akhir tahun 2011. Berarti bila emas ini naek hingga 500rb di akhir 2011, maka jumlah uang yang harus dikembalikan si A adalah 18.750.000.

 

Pertanyaan saya adalah bagaimana hukum pinjam meminjam terkait masalah ini? Bolehkah? Ribakah? Atau bagaimana? Mohon penjelasan dan pencerahan beserta dalil Quran dan Sunnahnya? Terima kasih sebelumya rekan2

 

 

Wassalam,
Muhammad Faiz Aziz

Re: [MILAD-10-MES] Tanya tentang Hutang Piutang dengan landasan emas sebagai perhitungan

…Full View

From: AYeeP <fais1234@yahoo.com>

View Contact

To: “ekonomi-syariah@yahoogroups.com” <ekonomi-syariah@yahoogroups.com>

 

Salam

Buat Mas Faiz, dan teman-teman lain yang berminat.

Pertama, Pada prinsipnya hutang barang jenis X atau uang senilai X harus dibayar dengan barang yang sama dengan jenis X atau uang yang sama dengan X. “Sama” di sini artinya sama jenis/mata uang, sama berat atau volume atau sama nilai, bukan sama dalam arti barang itu itu juga.

Selingan : Bagaimana jika dibayar dengan subtansi barang atau uang X itu juga. Silakan, hanya kalangan Hanabilah mengatakan tidak boleh ada syarat seperti itu. (Masalah ini gak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan mas Faiz)
Kedua, Uang 15 juta harus dibayar 15 juta juga (kalau rupiah yang rupiah juga, kalau bath ya bath juga) dan nilai yang harus dibayar tidak boleh dikaitkan dengan harga materi lain yang berlaku saat pembayaran. Tidak peduli apakah materi lain itu emas, perak atau kacang goreng. Tidak peduli juga dengan kenaikan atau penurunan mata uang rupiah karena deflasi atau inflasi. Pokok’e selama rupiah atau bath masih tetap sebagai mata uang yang berlaku/diterima maka ya pakai jenis mata uang itu juga.

Ketiga, bagaimana jika hutang rupiah mau dibayar dengan emas. Yang ini bukan permasalahan mas Faiz. Permasalahn mas Faiz adalah hutang X rupiah lalu ditentukan berapa gram emas x rupiah pada saat pinjam kemudian disyaratkan pada waktu pembayaran nilai rupiahnya harus mengacu pada berat harga berat emas yang senilai rupiah pada waktu hutang.

Mohon penjelasan dan pencerahan beserta dalil Quran dan Sunnahnya?

Permintaan dalil ini yang kadang bikin malas jawab soal, sebab harus buka buku-buku lagi. Nyari di-index-nya saja udah capek (maklum gak hapal satupun hadis secara lengkap plus sanadnya hingga sampai ke sayyidinaa gusti kanjeng Rasululah -shalawat dan salam untuknya, belum lagi menilai validitasnya meskipun sudah menyatakan diri menjadi konsultan hukum Islam di seluruh media elektronik dan cetak, baik hukum ibadah dan muamalah ), belum lagi juga susahnya memahami redaksi hadis atau ayat yang sering kali njelimet karena tidak tertulis dalam bahasa Betawi atau Inggris.

Emangnya untuk kalau jadi konsultan hukum muamalah harus `apal hadis, khan yang penting pa’am!

Lho konsultan hukum itu khan mujtahid fatwa, masak sih seorang mujtahid gak `apal satu hadis pun secara lengkap!  Meskipun itu tidak syarat tapi yo keterlaluan ah! Ra isin!
Namun karena saya sudah terlanjur ngaku jadi konsultan maka mau tidak mau harus jawab karena ntar dikata konsultan ecek-ecek.
Untuk menjawabnya, mari kita pakai sebuah hadis yang sudah sering dikumandangkan di masjid eh salah di dalam berbagai pengajian dan seminar. Bunyinya (lengkap dengan bunyi harkatnya) :

Kullu qardhin jarra manfa’atan fa huwa ribaan (Redaksi As Suyuthi, Al Jaami’ Ash Shaghiir)
Ingat lho, ribaan! Khan mau dibaca pakai cara baca anak-anak TPA.
(Setiap hutang piutang yang menarik manfaat maka ia adalah riba)

Kullu qardhin jarra manfa’atan fa huwa wajhun min wujuuhir ribaa. (Redaksi Al Baiyhaqiy dalam As Sunan Al Kubraa)
(setiap hutang piutang yang menarik manfaat maka ia adalah salah satu dari model riba)

Saya tidak menemukan buku hadis yang menulis Kullu qardhin jarra naf’an fa huwa ribaan setelah aduk-aduk sana sini. Mungkin ada teman bisa bantu saya. Sementara yang umum tersebar adalah yang terakhir ini. Meskipun demikian -saya akui- maksudnya sama saja.

Hadis yang sama sekali dha’f ini menerangkan bahwa setiap transaksi hutang piutang yang menarik manfaat maka itu adalah riba.

Kata “manfaat” di sini bisa diterjemahkan macam-macam, dan memang macam-macam.

  • Saya menghutangkan orang lalu mensyaratkan dia mijitin saya maka itu adalah riba
  • Saya menghutangkan uang kepada tukang dekor dengan syarat tukang dekor menghias rumah saya maka itu adalah riba
  • Saya menghutangkan uang kepada si A dengan syarat selama hutang belum dibayar saya tinggal di rumahnya, ini riba.
  • Saya menghutangkan uang kepada seseorang dan mensyaratkan anaknya dikawinin kepada saya, itu riba.
  • Saya menghutangkan uang kepada seseorang dan mensyaratkan anak saya tolong diterima masuk Perguruan Tinggi tanpa tes, itu juga riba.
  • Saya menghutangkan dodol kepada pedagang dengan syarat saya kalau makan dodolnya tidak perlu bayar, itu juga riba.
  • Saya menghutangkan barang dagangan saya kepada pembeli dengan syarat kalau dia perlu barang harus ambil dari saya, itu juga riba.
  • Saya menghutangkan duit kepada petani dengan syarat petani itu menjual harus hasil panennya kepada saya, tidak boleh kepada pihak lain, tentu saja di samping harus ganti duitnya juga, itu juga riba.
  • Saya menghutangkan beras kepada si A dengan syarat beras dikembalikan bersama pisang, itu juga riba.
  • Saya menghutangkan duit kepada bank syariah (bahasa halusnya wadii’ah) lalu pihak bank menjanjikan bonus tas dan pulpen karena saya menabung di banknya, itu juga riba.
  • Saya menghutang uang sebesar Rp. 15 juta dengan syarat dikembalikan Rp. 18.750.000,- dengan alasan mengikuti harga emas saat pembayaran, itu juga riba. (Seperti mas Faiz tanyakan)

 

  • Saya menghutangkan duit kepada si B dengan syarat saya harus mendendangkan lagu untuk si B di saat dia mau tidur, yang ini bukan riba.
  • Saya menghutangkan duit Rp. 100.000,- kepada si B dengan syarat kalau si B bayar tepat waktu saya akan memberinya bonus berupa mobil baby benz 6 pintu (yang kelima dan keenam adalah pintu kap mesin dan pintu bagasi), yang ini bukan riba.

Dua contoh terakhir bukan riba sebab manfaat/keuntungan kembali kepada orang yang berhutang, bukan untuk orang yang menghutangkan.

  • Saya menghutangkan duit kepada si B lalu saya meminta jaminan karena takut dia lari, ini bukan riba.
  • Saya menghutangkan uang kepada si B sengan syarat B harus membayar hutang itu, ini bukan riba
  • Saya menghutangkan uang kepada B dengan syarat B harus mencatatnya karena khawatir lupa, ini bukan riba

Yang pertama karena hutang dan jaminan adalah selaras, sejalan atau dalam bahasa Inggris mulaa`im. Yang kedua, emang yang namanya hutang harus dibayar. Enak aja gak dibayar. Yang ketiga, tugas mencatat yang dibebankan kepada B demi kebaikan transaksi itu sendiri.

  • Saya jual motor ayam eh salah motor bebek, kontan 15 juta, kredit 6 bulan harga 30 juta, lalu pembeli memilih salah satu opsi dan deal maka ini tidak riba bahkan tidak ada hubungannya dengan hadis di atas. Karena hadis di atas terkait riba hutang, sementara contoh barusan adalah jualbeli.

So, kalau mas Faiz tanya mana dalilnya, cukup dalil hadis yang saya sebutkan di atas. Dalil itu tersebut bersifat ‘amm mutlaq (bukan ‘aam mustaghriq). Pokoknya apapun manfaat/keuntungan/kelebihan yang ditarik dari transaksi hutang maka itu adalah riba kecuali yang dikecualikan seperti manfaat penggadaian dan manfaat yang kembali kepada penghutang atau juga manfaat yang dinikmati oleh kedua pihak.
Dalam kausu mas Faiz masalahkan, hutang 15 juta dikaitkan dengan harga emas sehingga pengembalian menjadi 18 juta sekian. Ada kelibahan sebesar 3 juta. Ini lah riba. Katakan padanya: Untukmu pokok pinjaman yang kamu berikan, dengan demikian kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.

Jika dia pemberi hutang mengatakan, “Saya teraniaya oleh inflasidan dan kenaikan harga emas”,
Jawab, logikanya jika rupiah menguat maka peminjam teraniaya, bukan kamu.
Jika emas menjadi tolok ukur, sejak kapan rupiah dikaitkan dengan emas, masa itu sudah berlalu! Bikin aja negara sendiri!

Mengenai validitas hadis di atas

Tapi itu khan hadis dha’if. sementara hadis dha’if tidak bisa dijadikan dalil?
Anda benar, seratus untuk anda.
Namun hadis itu sesuai dengan fakta atau latar belakang turunnya ayat riba. Jadi klop lah.
Dalam bahasa para ulama, hadis ini dha’if tetapi kandungannya benar 100% (wal ma’naa shahiih mi`ah fil mi`ah. Penambahan kata mi`ah fil mi`ah dari saya sendiri).

Mau solusi?
Biasanya tukang kritik selalu diminta solusi, padahal DPS dan bagian tukang bikin produk perbankan adalah dua pihak dengan tugas berbeda.
Tapi pada tukang kritik itu harus menyatu! Kalau gak abislah kita dikata-katain! Ya sudah gak apa-apa.

Solusinya dalam benak saya yang memang tidak utak-atik dengan bisnis pisang goreng, pinjamkan saja dalam bentuk emas. Dengan demikian waktu dibayar nanti juga harus pakai emas. Sebut saja ini sebagai skema hedging tukang pisang goreng.

Salam,
Faishol

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s