Pengakuan dan Pengukuran Akuntansi Murabahah Penyelesaian Utang Piutang Bermasalah

Pengakuan dan Pengukuran pada Akuntansi Penyelesaian Utang Piutang Murabahah Bermasalah meliputi:

A. Akuntansi Kreditur:

a. Potongan Tagihan Murabahah:

(1) Potongan yang diberikan dalam rangka restrukturisasi piutang Murabahah diakui sebagai pengurang jumlah tercatat margin Murabahah tangguhan sampai habis sebelum pada akhirnya mengurangi biaya perolehan asset Murabahah yang tersisa dalam piutang Murabahah yang direstrukturisasi.

(2) Jika jumlah potongan yang diberikan melebihi saldo margin keuntungan Murabahah tangguhan, selisih tersebut diakui sebagai kerugian.

b. Penjadualan Kembali Tagihan Murabahah:

(1) Penjadualan kembali tagihan Murabahah, dalam rangka restrukturisasi, diberikan kepada debitur yang tidak bisa melunasi utangnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. Penjadualan kembali tagihan Murabahah dilakukan dengan ketentuan: (a) tidak menambah jumlah utang yang tersisa; (b) pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil; dan (c) perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

(2) Biaya riil yang terkait dengan proses penjadualan kembali tagihan Murabahah yang dibebankan kepada debitur diakui sebagai pendapatan.

(3) Biaya riil dalam proses penjadualan kembali piutang Murabahah adalah biaya langsung (direct cost) dari aktivitas kreditur dalam melakukan penjadualan kembali tersebut.

c. Konversi Akad Murabahah:

(1) Konversi akad Murabahah menjadi akad lainnya bagi debitur yang tidak bisa menyelesaikan utang Murabahah sesuai dengan jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi debitur tersebut masih prospektif dimungkinkan dengan ketentuan: (a) akad Murabahah dihentikan dengan cara: (i) objek Murabahah dijual oleh debitur kepada kreditur dengan harga pasar; (ii) debitur melunasi sisa utangnya kepada kreditur dari hasil penjualan dengan ketentuan sebagai berikut: a) jika hasil penjualan melebihi sisa utang, maka kelebihan itu dapat dijadikan uang muka ijarah muntahiyah bit tamlik, bagian modal mudharabah musytarakah, atau bagian modal musyarakah; b) jika hasil kredituran lebih kecil dari sisa utang, utang yang penjualan setelah hasil kredituran tetap menjadi utang debitur yang cara pelunasannya disepakati antara kreditur dan debitur; (b) para pihak di atas (kreditur dan debitur) selanjutnya dapat membuat akad baru dengan akad: (i) ijarah muntahiyah bit tamlik; (ii) Mudharabah; atau (iii) Musyarakah.

(2) Kelebihan sisa hasil penjualan, jika ada, diakui sebagai uang muka ijarah muntahiyah bit tamlik, bagian modal mudharabah musytarakah atau bagian modal musyarakah, sesuai dengan akad baru yang disepakati. Perlakuan akuntansi untuk akad baru sesuai dengan PSAK terkait.

d. Debitur Tidak Mampu Bayar:

(1) Debitur yang tidak mampu melunasi utang Murabahah sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati dapat melakukan restrukturisasi utangnya sesuai kesepakatan dengan kreditur dengan cara sebagai berikut: (a) debitur menjual objek Murabahah dan atau jaminan lainnya kepada atau melalui kreditur dengan harga pasar; (b) debitur selanjutnya melunasi sisa utangnya kepada kreditur dari hasil penjualan dengan ketentuan sebagai berikut: (i) jika hasil penjualan lebih besar daripada sisa utang, sisa penjualan adalah hak debitur; (ii) jika hasil penjualan lebih kecil daripada sisa utang, selisihnya tetap menjadi utang debitur, atau kreditur dapat membebaskannya jika debitur tidak mampu membayar sisa utangnya.

(2) Pembebasan kewajiban debitur (debitur) untuk membayar sisa utangnya diakui sebagai kerugian.

e. Penyajian:

Kerugian yang timbul, jika ada, atas restrukturisasi piutang Murabahah disajikan secara terpisah dalam laporan laba rugi.

B. Akuntansi Debitur:

(1) Perlakuan akuntansi untuk restrukturisasi utang Murabahah melalui konversi akad dilakukan sesuai dengan PSAK terkait untuk akad yang baru.

(2) Keuntungan neto atas restrukturisasi utang Murabahah setelah pajak, jika ada, diakui dalam laporan laba rugi dalam periode terjadinya dan disajikan tersendiri sebagai bagian pendapatan nonusaha.

(3) Keuntungan neto yang timbul dari restrukturisasi utang Murabahah sebesar selisih utang Murabahah tercatat dikurangi jumlah yang harus diselesaikan, atau selisih hasil kredituran dengan nilai aset termasuk biaya-biaya yang terkait langsung dengan restrukturisasi utang Murabahah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s